bapak ketua, maaf karna pegawaimu ini sempat lalai. Sempat tek menjalankan perintah, bahkan mungkin sampai mengecewakanmu karena apa dikerjakannya itu belum sepenuhnya optimal dan memuaskan. Maaf. Sesuatu hal mengusik hati dan pikirannya. Benar-benar berat beban yang kini bertambah di pundaknya.
Bapak ketua, anda selama ini tidak tahu, bahkan mungkin tidak akan pernah tahu. mengapa? karna pegawaimu ini terlalu introvert, terlalu nyaman untuk menjadikan hatinya sebagai gudang rahasia dirinya sendiri. Hal-hal yang hanya ia simpan sendiri, dan kali ini tiba-tiba membludak karna tekanan dari luar tak bisa ia tahan. semua itu membuatnya kacau. pasti anda berpendapat ia tak professional. memang benar, bahkan iya menyadari bahwa dirinya belum bisa propesional membedakan urusan pekerjaan dan pribadinya. tapi andaikan anda mengetahuinya, anda bisa saja menjadi kasihan dan bersedih. Bahkan anda pasti tak ingin mengalami peristiwa yang ia alami sekarang.
sungguh dalam hatinya, iya bersedih karna membuat anda kecewa, tapi mulutnya tak bisa berkata tentang alasan mengapa ia jadi seperti ini. ia memilih diam. semua ucapan tak mengenakkan pun siap ia terima, karena ia tahu kalau dirinya memiliki andil dalam kesalahan/kekurangan yang selama ini terjadi. tapi ia memilih diam. selalu diam. memilih untuk menerima semua ucapan itu dengan, ya! karena ia mengerti, dan karna semua itu tak sehebat guncangan di belakangnya yang begitu keras, bahkan sangat pedih dan membuatnya rapuh. hatinya ingin agar dirinya bisa lebih baik, bisa membaik dari sesuatu yang membuat perasaannya ‘tak sehat’ namun tak sesingkat yang iya bayangkan. saat ia berproses pun, badai selalu datang diwaktu yang tak pernah ia duga.
maafkan ia pak ketua,




